Senin, 19 September 2011

KELUARGAKU,SAMUDERA CINTA TANPA BATAS :)





bpk : pembuka jalan,nahkoda besar,cinta,hati,dan hidupku,work with heart,a good good man with the brain of "perception", kerja keras,terus belajar,dan kejujuran adalah tiga kunci sederhana yang selalu beliau pegang
ibu : sang penyejuk,penyala lilin,cinta,kesederhanaan,dan ketegaran,your love has kept my hope alive,a big heart who touches my heart
mamas agung : keindahan kebersamaan,keindahan jiwa,penuntun langkah,hands that touch me
dd sari : hati dan mata dunia yang menyentuh hidupku,cahaya dunia,a part from a deep deep inside
kalian adalah pahlawan dengan hati yang selalu berlayar bersamaku..
di rumah mungil, kami merasakan cinta dan kesedihan bersama-sama. di rumah mungil inilah cita-cita sederhana pertama kami mulai bersemi.. My everything..everything

Salah satu ingatan yang melekat kuat sampai saat ini adalah rumah mungilku dan tetesan air hujan. Dengan beberapa kebocoran di sana-sini, betapa pun kencang angin bertiup di luar, di rumah ini kami merasakan kehangatan. Sebagai anak-anak, rasa inilah yang kami inginkan dari rumah dan orang tua. Terlindungi, tidak lebih. Hangatnya air teh dan nikmatnya pisang goreng hanyalah bonus tambahan. Sampai saat ini, saat pulang kembali ke rumah ini, kami masih merasa terlindungi.
Ketika musim hujan, aku sering bermain-main di depan rumah, di bawah tetesan air hujan bersama bapak. Ini adalah kegembiraan buatku. Aku bisa berlari dan berteriak lepas. Inilah waktu liburan kami. Air hujan yang menyentuh kepalaku menjadi salah satu kebahagiaan sederhana yang abadi. Kebahagiaan yang terbawa sampai sekarang dan yang mungkin menyelamatkan masa dewasaku.
Mengingat kembali diriku berlarian, basah di bawah tetesan air hujan dengan tawa yang lepas, membuatku menahan napas beberapa saat. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan ini. "Biarkan rambutmu basah, berlarilah, berteriaklah, karena kenangan seperti ini tak bisa kau ulang, tak bisa kau beli."
Aku juga sering melihat memori masa kecilku di beberapa furnitur yang masih kami simpan saat ini. Salah satu yang terbawa hatiku adalah meja marmer berkaki kayu. Marmer yang sudah retak-retak itu masih ada sampai sekarang di sudut rumah mungil kita. Di masa kecil, kami selalu mempunyai impian untuk menyimpannya sampai beberapa tahun. Meja itu adalah salah satu furnitur terbagus di rumah mungil kami. Meskipun marmer itu sudah retak-retak, impian in masih menyala dan kami tetap menyimpannya. Nilai-nilai inilah yang membuat aku yakin bahwa impian harus menyala dengan apapun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun itu retak-retak.
Furnitur lain yang masih ada sampai sekarang adalah lemari kayu di kamar orang tuaku. Lemari yang tidak terlalu besar setinggi hampir dua meter itu tempat menyimpan barang-barang kita berlima. Semuanya, dari seragam sekolah, baju sehari-hari, dokumen-dokumen berharga seperti surat keluarga, ijazah, surat nikah,dll. Semuanya tersimpan dalam satu lemari. Di lemari itu aku merasakan bahwa kebersamaan di masa kecillah yang bisa mengikat kami setelah nantinya menempuh jalan sendiri-sendiri.
Setelah dewasa setiap kali aku membuka lemari itu, aku merasa membuka kembali memori masa kecil yang tersimpan rapi di sana. Aku bisa merasakan kesejukan masa kecilku. Seperti air hujan yang menetes di kepala, di depan rumah kecilku.

Ibuku adalah cermin kesederhanaan yang sempurna di mata kami dan kesederhanaan inilah yang menyelamatkan kami. Kesederhanaan inilah yang membangun rumah mungil kami.
Kesederhanaan yang luar biasa itu tidaklah mudah kami cerna sebagai anak-anak dulu. Kadang pedih. Tak ada boneka berbie, mobil-mobilan, Ps/sejenisnya, sepeda BMX, bahkan minta buku-buku pelajaran pun harus diseleksi. Banyak keinginan yang terpendam dan aku bisa mengingat dengan jelas sampai saat ini.
Kami sering melihat awan gelap di atas rumah, kadang badai. Apalagi setelah kami menginjak besar. Biaya sekolah, seragam, dan buku-buku membengkak. Kebijakan ibu menyelamatkan kami semua. Ketegarannya menghadapi segala kesulitan ini, ketekunannya, airmatanya, membawa kami melalui awan gelap itu.
Ibuku di balik kelembutannya, menyimpan kekuatan yang luar biasa. Di balik kesabarannya, ia berhasil membawa kami semua hidup di bawah satu atap. Ia jugalah yang membangun rumah dengan fondasi kuat, di hati kami masing-masing.
Ibuku, hatinya putih, ia adalah puisi hidupku. Begitu indah. Ia adalah setiap tetesan air mataku. Hanya kehangangatan genggaman tangannya dan dekapannya yang memasuki hari-hariku, memasuki setiap desah nafasku.

Bapakku adalah lampu terang. Seperti warna pelangi di mataku saat ini. Seorang nahkoda besar yang mengubah hidupku. Yang memanduku perahu hidupku ke dermaga kehidupan. Ada beberapa saat ketika kami harus diam, tak bisa maju ke depan, bapakku yang paling berani maju berperang dan menjadi pelindung kami. Dialah yang mengambil inisiatif dan berteriak paling lantang. Ia seorang bapak yang tegas, tangguh, dan kuat. Keberaniannya telah melahirkan rasa kepercayaan diri pada anak-anaknya, rasa percaya diri yang kadang-kadang tidak terlihat di DNA kami.
Bapakku pun yang sering mengajariku tentang, seni, nada, melankoli, dan sastra. Kami sering bertanya-tanya, dari mana darah seni ini mengalir? Dialah yang mengajar kami seni baca puisi, bagaimana intonasi dan gaya penghayatan, bagaimana memasuki sebuah karya. Di sinilah kami tersentuh, menghargai keindahan lewat puisi. Di sinilah rasa sentimental merasuki darah kami. Keindahan berpuisi, keindahan menikmati sebuah karya.
Bapak adalah pekerja keras. Hatinya selalu terketuk untuk melakukan sesuatu ketika mendung bergantung di atap rumah mungil kami. Bapak selalu berjuang dengan tangan kecilnya. Kegigihannya menjadi inspirasi kami. Di dalam pribadinya aku melihat kekuatan, ketegaran, keberanian, dan keprihatinan yang dalam. Hatinya menempel di lantai rumah ini, melekat begitu kuat. Ia seakan lupa, ia juga mempunyai hidup. Kehidupannya hanyalah untuk kami. Dan bersamanya, dalam bimbingannya, kami mulai berani bermimpi dan merealisasikan mimpi itu bersama-sama.
Aku melihat keringat bapak, aku melihat keringat ibu, aku melihat keringat mereka berdua menetes bersama-sama agar matahari tetap bersinar untuk rumah mungil kami.

(sik.. sik.. bentar.. mw ngapus air mata dl.. nangis d'ning mah nulis ini)

Mamas. Aku tidak tahu bagaimana ia, sebagai anak pertama, mendobrak dan menemukan jalannya. Kami sebagai adik-adiknya seringkali hanya mengikuti dan melewati jalan yang telah ia tempuh. Ia pintar sekali. Ia adalah bakat yang terbengkalai, korban ketidakmapanan pada masa lalu. Dia telah membuka jendela buat adik-adiknya, dia melahirkan kami kembali. Ia pribadi yang luar biasa. Aku merasa bangga atas semua prestasinya, untuk semangatnya. Mamas mewakili kami, mewakili keluarga, mewakili rumah mungil kami. Pada saat-saat seperti itu kami merasa kami pun bisa bicara, bisa menempatkan diri sejajar dengan yang lain, meskipun rasa "kecil" tetap menjadi bagian terbesar ketika kami tumbuh.
Jakarta, di sanalah kiprah pertamanya, di sanalah ia menghirup udara kerja profesional, memperluas jaringan dan melihat Jakarta dari dekat. Mamas yang terkadang rendah diri dan tak jarang minder ini bertemu dengan orang-orang "besar" di kota itu, namun hatinya tidak terpolusi oleh udara Jakarta. Ia masih seputih yang dulu. Ia masih menyimpan cinta dan kejujuran yang luar biasa untuk rumah mungil kami.
Kami semua butuh tempat lapang untuk bernapas, menikmati kesendirian, dan menemukan kembali ruang yang hilang, dan pada saat itu mamas berkenalan dengan mimpi dan mulai membangun keberaniannya untuk lepas. Ia mengerti benar yang kami lalui. Ia mengerti ketidakmampuan kami. Ia begitu mengerti. Hatinya putih, gampang teriris. Ia adalah cermin sebuah keluguan dan ia pecah menjadi tangis dengan mudahnya.
Ia menguji kerapuhan jiwanya di bawah bintang-bintang di bawah air terjun. Ia menjerit, berteriak, bernyanyi dalam kesendirian, bermain drama kehidupan, dan bermeditasi. Pilihan ini bukanlah pilihan yang mudah. Di sinilah ia memulai babak baru dalam hidupnya. Di sinilah ia mengenal dunia. Ketekunannya, ketegarannya untuk mencari uang, melelehkan hati kami semua. Ia sudah menggenggam harapan. Ia mulai melihat dunia. Ia mulai "terbebas" dengan kondisi keuangan yang mulai menerang. Ia "terbebas" dengan keberaniannya yang dia pupuk perlahan dari kecil hingga saat ini menjadi sangat besar untuk menerima tantangan hidup yang baru.
Mungkin ia telah hadir di sampingku, begitu dekat, tanpa aku mengetahui kehadirannya. Mungkin saja napasnya telah menyatu dengan napasku. Dia pribadi yang hangat. Tumbuh bersamanya seperti meluangkan malam yang sepi, malam yang penuh bintang, malam yang tenang. Aku pun melihat keringatnya menetes untuk rumah mungil kami. Di rumah ini, mimpi kami adalah membangun rumah mungil kami.
I miss you, semoga tulisan ini bisa memanggilmu, karena aku tahu, kau tak akan pernah jauh dariku.

Dedek. Membuka kenangan lama yang terhampar di belakang memberikan makna baru dalam hidup. Memberikan apresiasi baru terhadap keberhasilan ataupun kegagalan saat ini. Kita selalu bisa kembali ke masa lalu. Kenangan itu, betapapun pahitnya, selalu bisa dikenang dan ditempatkan kembali di ruang yang tepat di hati kita. Dan biarlah memori beristirahat disana. Dd adalah sahabat yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Ketika matanya berbinar, mataku bersinar. Ketika hatinya jatuh, kuberikan hatiku. Ia adalah refleksi diriku. Aku melihat dia di diriku dan begitu pula sebaliknya. Ia adalah cermin keluguan, kesederhanaan, dan kelembutan. Aku melihat ibuku dalam jiwanya. Ia begitu putih.
Hatinya begitu lunak. Ia mudah tersentuh. Di tengah kesedihan dan kebahagiaan, air mata adalah bahasanya. Ia adalah pribadi dengan kejujuran yang tak pernah retak. Tapi, ia kadang retak karena menggenggam masa lalu terlalu kuat. Di saat yang terpuruk, ia melihat dunia luar dari jendela baru. Ia mengumpulkan pecahan-pecahan kerapuhannya dan bangkit. Ia melihat kehidupan dan mulai membangun mimpinya kembali. Is there suffering on this new earth? On our earth we can truly love only with suffering and through suffering! We know not how to love otherwise. We know no other love. I want suffering in order to love. Aku menemukan kedamaan di wajah kecilnya.
Dalam hidupku, ada misteri yang tidak bisa disampaikan dan hanya kepada dia bisa kubagikan rahasia hidupku. Ketika aku bisa membagikan rahasia ini kepadanya, aku merasa terbebas, seperti gumpalan awan yang tersapu angin di puncak gunung. Keluguannya yang putih dalam melihat dunia menyentuh hatiku yang paling dalam. Matanya yang segar dalam melihat hidupku seperti dua malaikat yang mengiringi jalanku ke depan. Dialah yang menyelamatkan aku di sini, di tengah kesendirian yang mungkin bisa membunuhku. Malam ini, aku menunggunya. Ingin sekali kubagikan cerita yang aku tulis dua hari yang lalu tentang secercah harapan di perjalanan hidupku.

Kegigihan tangan-tangan kecil ini untuk bersama-sama melewati mendung di atas atap rumah mungil kami, membuat kami tangguh. Keringat yang tercecer, membuat garis hidup kami begitu indah. Dengan segala ketekunan, kami lalui dengan gemilang. Prestasi mamas, aku, dan dedek, menjadikan rumah mungil kami "terangkat"
Kami percaya akan kekuatanNya, akan perjalanan jauh yang "mengangkat" kami semua. Inilah hidup kami, impian kami, mimpi masa  kecilku, keinginan yang muncul dari mimpi dan dari rumah mungilku. Hidup kami adalah buah kerja keras, disiplin, keprihatinan, dan kejujuran. Hidup ini adalah buah "kehangatan" rumah mungil kami. Langkah demi langkah, kami merasa hidup kami tak akan pernah sama lagi.

I can imagine if there's nothing in my pocket, but i can not imagine if there's no knowledge in my mind and religion in my heart. They are my other suns in my life. Dedicate to my father, mother, brother, sister, and my tears that ever made the most beautiful line on my way here. In my entire life, I never expected to be here, at all. Thank you so much :*
You must know that there's nothing higher, or stronger, or sounder, or more useful afterwards in life, than some good memory, especially a memory from childhood, from the parental home. You hear a lot said about your education, yet some such beautiful, sacred memory, preserved from childhood, is perhaps the best education.
If a man stores up many such memories to take into life, then he is saved for his whole life. And even if only one good memory remains with us in our hearts, that alone may serve some day for our salvation.
Terima kasih untuk cinta yang mengalir bagai gelombang-gelombang tanpa henti. Senja hari ini begitu indah dan aku menggenggam warna jingganya.

-Hening, Sept' 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar